Terang, Samar, lalu Menghilang

Suatu kali kukatakan padamu, satu kata yang bagiku penuh makna. Satu peristiwa yang untukku telah merubah semua. Tak lagi tentang ada atau tiada. Bagai nyanyian hati, selalu memanggil kembali. Bagaimana pun kerasnya langkahku menghindari, selalu ada ‘disini’. Tak lagi ku lawan  perasaan, tak hendak ku berlari dalam bayangan.

Dunia kecil kita

Datanglah temuiku. Kau pun membuka diri untuk sebuah pertemanan hati. Keterbukaan, kebaikan, kelembutan dan kesabaranmu mendengar keluh kesahku, menjadi hal yang kutemukan dalam dirimu. Dan kemudian pasti membingungkan untuk bisa mengerti aku. Seperti dua belahan berbeda, diam tenang bagai siput dalam cangkang atau kadang meletup tak terduga bagai prajurit  berperang di medan laga. Selalu berusaha menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang atau bahkan dengan menghunus pedang. Tapi tak perlu waktu lama untuk kita bisa bersenyawa, memiliki suatu yang baru. Sesuatu yang kemudian  mampu menguatkanku dan menyatukan kita. Kau perlakukan aku layaknya manusia biasa. Tak perlu aku terlihat luar biasa. Tak perlu aku berpura-pura. Di sela waktumu, kau temani aku bercerita tentang penderitaan dan kebahagiaan. Denganmu aku menjadi diriku. Kunikmati kebersamaan ini. Kumaknai sebagai suatu yang berarti. Nyaman bersamamu. Aku pun merasa kau miliki rasa yang sama. Seperti dalam sebuah permainan masa kecil, kita bangun sebuah dunia kecil dalam angan yang besar. Terpencil dalam persembunyian. Kau buat sayap-sayap untukku mampu terbang dalam awan-awan angan, melayang dalam buaian, bersama dalam alam pikiran.

Sore itu kembali kita bertemu. Menenangkan untuk melihat senyummu. Menyejukkan untuk mendengar sapamu. Teduh sungguh perangaimu. Seperti kembali pulang, setelah mengarungi gurun dan padang ilalang, limbung di hantam angin dan menciut dicengkeram dingin. Ingin sejenak lepas dari himpitan, dari ikatan dan keharusan. Meraih mimpi yang hilang. Tak kuhiraukan rasa bersalah yang datang. Kusadari, tak ada yang lebih sementara daripada dunia kecil yang kita punya. Ketidakpastiannya memang selalu menggetarkan. Tanpa rencana, tanpa kompas dan tanpa peta, aku seperti buta, tersesat di tengah labirin luas. Berusaha mengeja langit, menghitung bintang satu persatu mencari arah pulang, tiba-tiba aku teringat padamu, melihatmu dan menuju ke arahmu. Begitu saja. Senyawa ini pun menjadi sempurna dalam satu peristiwa. Tak juga sehelai benang dan bilah memisahkan. Satu dalam rasa dan kebersamaan sempurna, dalam satu kisah yang tak sempurna. Sungguh dunia kecil yang maya. Dunia kecil yang nyata. Dunia kita.

by fialisha