Sebuah Malam

Ketika kembali menjumpaimu. Aku berlari lewati waktu. Sisihkan semua sakit yang mendera. Takkan ku biarkan tampak dihadapanmu. Aku hanya ingin sempurna  lewatkan waktu yang tak lama bersamamu, menikmati  pemandangan yang menawan  di depan  mataku. Sungguh pun ribuan kata ingin kusampaikan, aku hanya mampu diam, meski diam kadang hanya mengasahnya   menjadi  gelisah  lain yang liar. Aku membiarkanmu mengurai cerita. Mungkin  sesekali  aku menatapmu dengan rasa yang kasat mata.

Ingin sejenak ku genggam tanganmu, meleburkan semua rasa yang membatu di hatiku. Tak mampu ku sampaikan lara hidupku, aku sendiri  telah bosan menapaki jalanku yang melulu tentang itu. Tidak ada angin  yang berhembus.  Sunyi. Semua seolah berlabuh. Waktu tertahan sesaat, bahkan aku merasa bumi berhenti berputar. Aku terpaku.  Diam mengikuti keheningan. Hanya ada suaramu.

Di depanku, balutan warna muda membuat bidang dadamu  begitu nyata. Butiran  keringat membasahi kulitmu. Katamu, kau memang begitu. Ah…kenapa kau selalu menawan hatiku, meski telah kukutuki itu, cahayamu membutakan mataku. Didepanmu aku mengamati setiap jengkal wajahmu. Betapa ingin aku berlari ke dalam matamu. Sembunyi dari semua duka, tetirah atas  semua  lelah.  Ingin ku tahu  apakah ada  tempatku disana, untuk semua kisah yang begitu  dalam  kau  tinggalkan. Untuk sebagian hati yang kau bawa dan entah  kau  hempas dimana. Untuk semua rasa perihku menanggung rindu. Kerinduan untuk menyampaikan semua susah dan senang yang kau bagikan, melunaskan  cerita  dalam kata-kata yang tak  dapat   mudah ku sampaikan. Telah kau  tawan ‘masa’ku, mimpiku.  Dan  jiwaku  telah membiarkanmu menjadi kekasih abadiku.

Ku rasa aku mencintaimu. Kata itu, kata serupa yang menyelimuti perasaanku malam itu. Kata yang sempat hilang artinya setelah kepergian Papa dulu, dan bahkan aku ragu akan menemukan, apalagi merasakan. Aku  bahkan tidak berusaha mencarinya. Semua usai kala itu. Cinta merupakan bab terakhir dalam buku kehidupanku. Cinta yang ku miliki setelah itu hanyalah sebuah kelaziman, keharusan, untuk dapat bertahan.  Saat kau masuki kehidupanku, aku  berterimakasih  padamu. Aku menikmati setiap kata, setiap rasa, setiap kebersamaan kita. Aku berhenti mengeluh pada Tuhan. Aku bersyukur kepada semua orang yang telah hadir dalam hidupku. Meski masih ada tangis, tapi kini  aku dapat tertawa. Aku mampu kembali  menulis cerita. Aku tak lagi peduli pada pendapat orang terhadapku. Aku kembali berada di masa kini. Masa dimana aku hidup.

Ketika ku sampaikan semua ini padamu. Aku takkan pernah merampas hatimu, memenjarakanmu dalam kisahku. Meski kata-kata  mengalir  jauh dari  lubuk hatiku, aku takkan memaksa membuatmu mengerti. Aku hanya berharap kau mau mendengarnya, menerima dan mengakuinya.

Aku hampa. Hampa yang sempurna.  Aku tahu akan temuimu. Hingga bosan dan aku tidur panjang.  dengan semua rasa, dengan semua kasih yang ada…

by fialisha