Satu alasan gagal, adalah malas

Mahasiswa adalah tingkat tertiggi dari siswa. SD, SMP, SMA, kita semua hanya sekedar siswa. Sekarang, saya, dan anda… adalah mahasiswa. Seorang mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab belajar, tidak hanya memiliki tanggung jawab sekedar absensi. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan seorang mahasiswa.

Banyak nilai moral yang dapat dilihat dari kehidupan seorang mahasiswa. Banyak pengalaman yang dapat diceritakan dari kehidupan seorang mahasiswa. Kebanyakan dari kita, lupa akan titel mahasiswa yang melekat tak terlihat.  Seakan-akan kita egois hidup tanpa orang lain. Bukankah seorang mahasiswa perlu memperluas cara pandangnya?  Perlu merubah cara fikirnya.. Perlu merubah tingkah lakunya..

Kita mahasiswa, dewasa sudah bukan lagi bergantung pada usia. Banyak dari kita masih sibuk mengurus kehidupan orang lain, banyak dari kita yang berfikiran sempit. Padahal sejatinnya, sempurna saja tidak akan pernah.

Merubah cara pandang seorang mahasiswa, tentu tidak mudah. Cara pandang yang malas.. cara pandang yang santai.. cara pandang yang mempersulit orang lain. Yang mampu merubahnya, hanya mahasiswa itu sendiri.. hanya kita lagi. Mengapa begitu?

Singkatnya adalah, sekuat apapun dukungan eksternal, dukungan internal akan jauh lebih kuat. Kata malas, adalah kata yang sangat lekat dengan semua orang.. Tentu saja, terlebih lagi mahasiswa dengan tanggung jawab Tugas, UTS, UAS.

Sudah bukan saatnya bermalas-malasan karena masa depan adalah buah yang kita tanam sekarang. Apa yang dapat kamu ceritakan untuk, anak cucumu kelak? Bukankah bagus memiliki sesuatu yg dapat dibanggakan? Apa yang dapat kamu tawarkan sebagai nilai jual dirimu sendiri kelak? Bukankah menarik ketika lulus sebagai “produk” yang berhasil?Apa yang dapat kamu tawarkan dalam pekerjaan? Bukankah bagus ketika kamu memiliki banyak pengalaman?

Perubahan itu dapat kita temuin dimana saja dalam kehidupan mahasiswa. Hanya saja memang tidak mudah.. tidak selalu mudah. Salah satu yang bisa jadi mencakup semuanya adalah dengan berorganisasi.Organisasi tidak selalu formal, pada kenyataannya, organisasi adalah relasi. Saya tidak berkarta mahasiswa wajib berorganisasi, saya pula tidak berniat menyombongan naungan organisasi.. hanya disini, di kehidupan mahasiswa, organisasi dibutuhkan untuk memperbanyak relasi.

Kesuksesan seseorang tidak selalu diukur dengan seberapa banyak dia terlibat dalam organisasi. Tapi setidaknya, apa yang kamu lakukan dalam organisasi, adalah pengalaman yang dapat kamu ambil. Pengalaman dan nilai moral yang mungkin dapat merubah sudut pandang seorang mahasiswa dan mungkin bisa jadi… motivasi untuk mempercepat wisuda.

Tidak mudah memang, tapi juga tidak sulit. Selagi kita masih berdiri disini, diatas nama almamater sendiri, organisasi dan relasi adalah sebuah jalan mendewasakan diri. Bermalas-malasan.. berfikiran santai.. mempersulit pekerjaan orang lain..

Lebih baik kita sibuk sekarang, daripada terpaksa sibuk nanti.

by Fasya Vadya Fredanella