Saat Kinanti akan selalu Kunanti

Aku baru saja melangkah turun dari angkot berwarna hijau yang mengantarkanku ke desa Cipetir, tempat pakde Kirno, adik ibuku tinggal. Letak rumahnya berada di ujung jalan ini, kira-kira berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya. Aku melirik jam tanganku sekilas, sudah pukul empat sore. Kira-kira aku sudah menempuh perjalanan sekitar 10 jam lamanya. Dengan langkah gontai, sambil menjinjing tas ransel di pundakku, aku menapaki jalan.

Ku lihat gunung Gede Pangrango menjulang dengan gagahnya dari kejauhan, di sisi jalan terdapat hamparan sawah yang berjejer rapih. Ada segerombolan gadis menjunjung bakul di kepala mereka. Pemandangan tak biasa yang tidak akan pernah bisa aku lihat di kota besar. Di kota besar, gadis seumuran mereka bukan menjunjung bakul melainkan tas belanjaan dengan berbagai merk.

Di sekumpulan gadis-gadis pembawa bakul, aku melihat sesosok  gadis yang menarik perhatianku. Gadis itu berkulit putih, dengan hidungnya yang bangir serta rambut hitam panjang tergerai sepinggang. Teman-temannya sedang asyik bercanda dan kulihat ia hanya tersenyum.

Senyuman dari bibir merahnya merekah dengan indah, aku yang dari tadi memperhatikan hampir terjatuh tersandung batu yang tak kulihat sudah ada di depan kakiku saking terpesona oleh senyumnya yang menyihir mata.

Sayang sekali, jalan kami tidak searah, aku berbelok ke kanan ke rumah pakde ku yang sudah terlihat pagar rumahnya sedangkan mereka berbelok ke arah kiri.

Sesampainya dirumah pakde, langsung ku ketuk daun pintunya perlahan “tok tok tok”

“Tunggu sebentar” ku dengar suara dari dalam rumah menyahut.

Klek” grendel pintu pun berputar dan terbukalah pintunya.

Pakde menyambutku dengan senyumnya yang lebar, langsung aku menghamburkan pelukan dan memeluk erat pakde tersayangku ini.

Wajah pakde masih seperti dulu, namun gurat-gurat halus mulai terlihat diwajahnya.”gimana perjalanannya tadi?”tanya pakde sambil merangkul pundakku dan membawaku masuk kedalam rumah.

Aku meletakkan tas ransel yang sedari tadi menggelayuti pundakku ke lantai. Sambil memandangi foto-foto yang menggantung di tembok aku menjawab pertanyaan paman “ cape banged pakde, tapi menyenangkan soalnya sudah lama aku tidak melakukan perjalanan jauh.

Ngomong-ngomong bude dimana, kok dari tadi aku ga melihat?tanyaku heran.

Budemu sedang membantu temannya di desa sebelah, soalnya anaknya mau mengadakan resepsi perkawinan” jawab pakde

Ya sudah, kamu bawa tasmu dulu sana ke dalam kamar, tadi pagi bude sudah membereskannya.Istirahat dahulu,nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya nduk pakde mau ke Musholah dahulu” ujar pakde sambil melangkah pergi meninggalkan aku menuju ke arah pintu rumah.

Aku langsung mengambil ransel yang tadi kuletakkan di bawah sambil ngeloyor masuk ke dalam kamar.

Sesampainya di dalam kamar, ku letakkan ransel di bangku dan Langsung ku rebahkan tubuh yang lelah ini di atas kasur dan memejamkan mata perlahan. Tak sampai lima menit aku sudah memasuki arena mimpi.

Subuh aku sudah bangun, hendak memotret sunrise di areal pematang sawah. Bergegas aku mengambil tas kamera dan menggantungkannya di bahu kiriku. Sambil mematut diri di depan kaca aku merapikan rambutku yang sudah mulai memanjang sebahu.

Setelah pamit ke pakde aku langsung menapaki jalan menuju ke sawah. Sesampainya disana langsung ku keluarkan canonku dan memotret objek matahari yang mulai malu-malu memancarkan sinarnya.

Puas dengan hasil jepretannya, aku duduk di gubuk yang berada di tengah-tengah sawah. Kulihat segerembolan wanita yang kemarin aku jumpai, baru datang dan hendak bertani. Rasanya jantungku berdegup dengan kencang ketika mataku melihat ke sosok wanita yang kemarin. Langsung ku bidik dengan lensa kamera untuk mengabadikan makhluk indah ciptaan tuhan  yang saat ini sedang berada tak jauh dari hadapanku. ingin rasanya aku berkenalan dengannya, rasa penasaran dan malu bercampur aduk di relung hatiku.

Hingga kini, aku masih berada di gubuk memandanginya dari kejauhan hingga tanpa kusadari terik matahari semakin menyengat. Ku lihat beberapa petani mulai melepaskan pekerjaan mereka. Ibu-ibu mengantarkan rantang dan sebotol air di kedua angan mereka. Kulihat jam di pergelangan tangan dan waktu menunjukan pukul 12.00 wib. “ sudah lama juga aku  disini” gumamku dalam hati.

Aku pun segera beranjak dari gubuk hendak pulang ke rumah pakde, sambil berjalan dan melihat hasil foto di kameraku,tiba-tiba aku bertubrukan dengan seseorang, ku dongakkan kepalaku keatas, alangkah kagetnya kalau yang sedang berada di depanku kini sosok gadis yang ku kagumi, si cantik pembawa bakul.

Kulihat dari jarak dekat, wajahnya semakin cantik, dia pun tersenyum dan terlihat lensung pipit menghiasi pipinya yang agak kemerah-merahan di terpa cuaca panas.

“maaf”ungkapku, gadis itu hanya menganggukan kepala dan  tersenyum.Setelah itu ia pergi, kulihat ia berlari-lari kecil menghampiri gubuk yang ternyata teman-temannya sudah tiba lebih dahulu disana. Aku masih berdiri mematung memandangi punggung nya yang semakin menjauh berjalan dan kembali hanya bisa memaki dalam hati “kenapa tidak ku ajak saja ia berkenalan, akh”pekikku kesal.

Aku kembali meneruskan langkah kaki, dengan senyum mengembang di wajahku.

Sesampainya dirumah pakde, kulihat rumah dalam keadaan kosong, namun  makanan sudah tersedia di meja makan. Tak ada perasaan lapar, rasa lapar sepertinya menguap setelah perjumpaanku dengan dia.

Aku langsung masuk kamar, merebahkan diri dikasur sambil melihat-lihat hasil fotoku.  Ku zoom permukaan gambar, agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Rasa penasaran menyergap  diriku, ingin tahu siapa namanya, dimana ia tinggal, dan mendengar suaranya sebab aku penasaran selama aku bertemu dengannya belum pernah aku dengar renyah suaranya, yang ada hanya ulasan senyum yang selalu nampak, entah memang gadis itu pemalu atau ahh semakin  aku bertekad esok ketika berjumpa dengannya lagi, aku akan mengumpulkan keberanian untuk mengajaknya berkenalan.

Sedang asik leyeh-leyeh, kudengar ketukan pintu kamarku dari arah luar, bergegas aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri pintu. Segera ku putar knop nya, ternyata bude Sri, istri pakde yang ada di depan pintu.

Aku segera memeluknya, melepaskan rasa kangen sebab seudah hampir 10 tahun aku tidak berjumpa

“Sudah besar sekali keponakan bude yah, tinggimu sudah melebihi bude” ujar bude sambil mengelus pipiku.

“Bude baru pulang?”tanyaku sambil menggandeng tangan bude dan membawanya duduk di tepian kasur

“Iyah, bantuin temen bude yang lagi hajatan di kampung sebelah”

“kamu sudah makan nduk?”tanyanya

Aku menggelengkan kepala “aku lagi males makan bude”jawabku. Melihat  wajah bude, Arian jadi kenyang sambungku lagi.

Bude menjiwir hidung mancungku sambil berkata” Dasar gombal kamu Ri, ayuk makan bude suapin yah”

Asikk”teriakku kegirangan langsung saja aku  bangkit dan menggendong budeku menuju ke ruang makan.

Hari esok yang kunantikan akhirnya tiba juga. Kali ini aku tidak berniat memotret matahari pagi, tujuanku adalah memotret gadis pembawa bakul yang membuat hatiku selalu hangat seperti mentari yang bersinar. Membuat jantung ini selalu berdegup kencang dan membuatku susah memejamkan mata. Bukan gombal, tapi perasaan ini baru kali pertama kurasakan. Aku memang tipikal orang yang tidak mudah jatuh cinta, tetapi pada saat sekarang ini aku baru meyakini bahwa bidadari itu memang nyata. Terwujud indah seperti cerita dongeng khayangan.

Dengan sabar aku menunggunya di gubuk kecil yang ada di tengah-tengah sawah. Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Hawa dingin menggigit dan merasuk ke dalam sumsum tulangku. Sesekali aku menggeretukkan gigi menahan hawa dingin. Sweater merah yang ku pakai masih saja bisa ditembus dengan udara dingin. Kalau di kota, jam segini biasanya aku masih meringkuk dan bergulung dengan selimut. Jarang sekali aku bisa bangun pagi, tetapi demi gadis idamanku, aku rela menerjang cuaca dan kebiasaan..memang benar kalau lagi kasmaran, orang bisa saja rela melakukan sesuatu dan menjelma bukan menjadi seperti dirinya.

Setelah lebih dari 30 menit, akhirnya aku melihatnya sedang berjalan sendiri tanpa teman-temannya.

“Ahh, memang nasib baik sedang menghampiri” pikirku kesenangan aku menunggunya lewat depan gubuk sambil pura-pura melihat gambar di kameraku.

Kulirik ia  yang sedang berjalan dan ternyata ia melihatku. Aku langsung gelagapan sambil refleks memberikan senyum kepadanya ia pun melakukan hal yang sama.

“Tunggu”kataku sambil turun dari gubuk, dengan mimik muka bingung ia pun menungguku.

“Hai, Nama saya arian”kataku sambil mengulurkan tangan kepadanya, mencoba mengajaknya berkenalan. Awalnya memang ia kaget tapi dia pun membalas uluran tanganku.

Tangan kami pun seperti menyatu, halus dan lembut itu yang kurasakan, sampai-sampai aku enggan melepaskannya.

Ia pun hanya mengangguk dan tersenyum. Aku sekali lagi menggumamkan kata kepadanya, seraya mengajaknya berkenalan “saya Arian, boleh kenalan ga?”

Akhirnya dengan terbata-bata ia mengeluarkan suara yang tidak jelas, menggumamkan sebuah kata yang hampir saja tidak bisa ku tangkap, dan aku baru bisa memahami kalau gadis si pembawa bakul ini bisu.

Sayang sekali, tetapi itu tidak jadi soal buatku. Aku menanyakan kepadanya”mau saya bantu bawa bakul?sambil menunjuk bakul yang sedari tadi di apit di ketiak kirinya. Ia pun menggeleng dan lagi-lagi tersenyum..senyum yang manis bak madu.

“Yudah kalau gitu, saya boleh enggak ikut kamu?tanyaku sambil berseloroh panjang lebar bercerita tentang diriku dan kenapa aku bisa ada di desa ini, ia pun hanya tersenyum dan sesekali tertawa mendengar aku berceloteh panjang kali lebar tanpa ada titik untuk berhenti berbicara sambil menapaki jalan berdua menuju ke arah sawah.

Hari-hariku kini tidak sepi lagi, dan aku pun seperti mempunyai semangat baru mengerjakan tugas akhir kuliahku. Kinanti nama gadis itu, yang kini selalu hadir menemani, meskipun ia tidak bisa berbicara tapi ia bisa menulis oleh karena itu kami selalu melakukan percakapan lewat media kertas. Aku yang membawakannya sebuah note dan pulpen dan kami selalu bertukar kisah lewat secarik kertas.

Tidak terasa esok adalah hari terakhirku disini, aku ingin mengungkapkan rasa yang terpendam yang selama ini aku rasakan. Rasa rindu, ingin memiliki, dan melindungi kepada Kinan bercampur menjadi satu. Maka rencananya sebelum aku pulang, aku ingin bertemu dengannya di gubuk kecil tempat biasa kami selalu bertemu dan bermain bersama. Dan pada malam ini aku berlatih merangkai kata sehingga menjadi kalimat  yang mewakili ungkapan isi hati agar kinan mengerti apa yang akan aku utarakan.

Tibalah hari perpisahan ini, setelah aku berpamitan dengan pakde dan bude aku segera meluncur pergi.

Kulihat Kinan sudah tiba lebih dahulu, dengan memakai baju berwarna putih serta rok motif bunga sebatas dengkul dan bunga kenanga yang terselip di telinga kirinya semakin memancarkan aura keibuannya. Berdiri di depan gubuk.

Aku melambaikan tangan ke arahnya,ia pun lantas membalas lambaian tanganku. Degup keras jantungku berdetak tak terkendali, peluh sebiji jagung mengucur deras turun di sela dahiku.

Aku membentangkan tanganku dan segera ku rengkuh ia kedalam pelukan. Ku hirup aroma wangi shampo dari rambut hitam kemilaunya.

Kulepaskan perlahan pelukanku, kami saling menatap dan tersenyum.

Aku memulai membuka percakapan”Kinan, Arian pulang yah makasih atas waktu 3 minggu ini, Arian seneng banged Kinan mau jadi temen Arian, maen bareng, becanda bareng dan maaf Arian suka jahilin Kinan kalau lagi di sawah”

“Kinan”ucapku  sambil menarik nafas terlebih dahulu dan mengeluarkannya perlahan aku meggenggam erat tangannya.

“Arian suka sama Kinan”

Langsung Kinan menarik tangannya dari genggamanku, senyum yang tersungging diwajahnya lenyap.

Seakan tak percaya ia menangis dan langsung pergi meninggalkan aku yang termangu sendirian.

Aku hanya bisa memandangi kepergiannya tanpa bisa mencegah. Aku menyadari bahwa kinan akan kaget dan kecewa dengan ucapanku barusan dan aku pun sadar ia tidak akan mungkin membalas perasaanku karena aku sama seperti dirinya, sama-sama seorang wanita.